Semifinal Piala Dunia 1970 antara Jerman Barat dan Italia selalu dikenang sebagai salah satu pertandingan terbaik sepanjang sejarah. Laga yang kemudian dijuluki Game of the Century itu, lahir salah satu potret paling ikonik tentang keberanian seorang pemain sepak bola.
Sosok itu adalah kapten Jerman, Franz Beckenbauer. Memasuki menit ke-70, Beckenbauer terjatuh setelah berbenturan dengan pemain Italia. Bahunya mengalami dislokasi. Dalam sepak bola modern, cedera seperti itu hampir pasti membuat seorang pemain langsung ditarik keluar.
Masalahnya, saat itu Jerman sudah menggunakan seluruh jatah pergantian pemain. Jika Beckenbauer keluar, Jerman harus menuntaskan pertandingan dengan sepuluh orang. Pria yang dijuluki Sang Kaisar itu memilih pilihan yang jauh lebih berat. Tangannya diikat ke dada menggunakan perban agar bahunya tidak bergerak terlalu banyak.
Dalam kondisi kesakitan, ia kembali berdiri dan melanjutkan pertandingan hingga babak perpanjangan waktu berakhir. Hampir 50 menit, ia bermain dengan satu tangan yang nyaris tak bisa digunakan. Akan tetapi Beckenbauer gagal membawa Jerman Barat lolos ke final malam itu.
Namun Beckenbauer tetap memberikan keberanian dan loyalitasnya. Ia juga mengubah cara dunia memandang posisi terakhir di lapangan. Beckenbauer bukan sekadar menghentikan serangan lawan. Ia memulai serangan dari lini belakang, mengatur tempo permainan, membawa bola keluar dari tekanan, mengirim umpan-umpan panjang yang akurat, hingga sesekali muncul di depan kotak penalti lawan.
Gaya bermain seperti itu kemudian dikenal luas sebagai libero, dan Beckenbauer menjadi sosok yang menyempurnakannya. Ia menunjukkan bahwa seorang bek tidak harus bermain kaku, tapi juga bisa menjadi otak permainan. Empat tahun setelah tragedi di Meksiko, Beckenbauer kembali memimpin Jerman Barat di Piala Dunia 1974.
Kali ini, ia mengangkat trofi. Di final, lawannya bukan tim sembarangan. Belanda datang dengan Johan Cruyff dan revolusi Total Football yang saat itu dianggap sebagai permainan paling modern di dunia. Namun Jerman Barat berhasil menang 2-1.
Beckenbauer kembali menjadi pusat permainan. Ia mengatur pertahanan, menjaga keseimbangan tim, sekaligus memastikan Jerman mampu keluar dari tekanan Belanda. Trofi itu seolah menjadi penutup sempurna bagi perjalanan seorang pemain yang empat tahun sebelumnya memilih tetap bertahan di lapangan meski bahunya sudah bergeser dari tempatnya.
Tidak banyak pemain yang mampu menggabungkan kecerdasan, keberanian, dan ketenangan dalam satu sosok. Beckenbauer melakukannya sepanjang kariernya. Ia tidak dikenang hanya karena trofi atau gelar yang dimenangkan. Ia dikenang karena menunjukkan bahwa loyalitas kepada tim terkadang berarti tetap berdiri, bahkan ketika tubuh sudah meminta berhenti.