Saat Inggris bermain imbang tanpa gol melawan Ghana pada fase grup Piala Dunia 2026, ada satu momen kecil yang justru ramai dibicarakan di media sosial. Bukan soal peluang Declan Rice atau tendangan sudut yang dia ambil. Melainkan cara gelandang Arsenal itu menggulung kedua sisi celana pendeknya hingga jauh di atas paha.
Banyak yang menganggapnya sekadar gaya. Namun di dunia sepak bola, kebiasaan seperti itu ternyata menyimpan banyak cerita. Jika membuka regulasi perlengkapan pemain FIFA, ada lebih dari lima halaman yang membahas soal celana pendek.
Mulai dari bentuk, warna, nomor punggung, hingga larangan menggunakan resleting atau kantong. Menariknya, FIFA sama sekali tidak mengatur seberapa pendek celana seorang pemain boleh dikenakan. Artinya, selama masih memenuhi standar perlengkapan pertandingan, pemain bebas menentukan kenyamanan mereka sendiri.
Rice tentu bukan satu-satunya. Jack Grealish sudah lama identik dengan kaus kaki rendah dan betis besarnya. Neymar hampir selalu menggulung salah satu sisi celana pendeknya. Marcelo, Lukas Podolski hingga Dominic Calvert-Lewin juga dikenal memiliki kebiasaan serupa.
Di sepak bola perempuan, pemandangan itu bahkan jauh lebih umum. Lalu sebenarnya, kenapa mereka melakukannya? Jawabannya ternyata tidak sesederhana soal penampilan. Martin Turner, psikolog olahraga yang telah lebih dari lima belas tahun bekerja bersama berbagai klub di Inggris, menjelaskan bahwa kebiasaan kecil seperti menggulung celana pendek bisa menjadi bagian dari rutinitas psikologis seorang atlet.
Dalam pertandingan bertekanan tinggi, pemain membutuhkan sesuatu yang membuat mereka merasa nyaman dan tetap fokus. Ada yang selalu mengikat tali sepatu dengan cara tertentu, menyentuh rumput sebelum sepak mula, dan bahkan tanpa sadar selalu menarik atau menggulung celana pendeknya.
"Ketika kita menghadapi ketidakpastian dan bahaya, kita mencoba untuk fokus kepada hal-hal yang dapat kita kendalikan. Yang terjadi adalah terciptanya rutinitas, mantra, dan terkadang dalam kasus atlet, kebiasaan berpakaian di bawah alam sadar," kata Turner seperti dikutip dari The Athletic.
Rutinitas itu membantu otak merasa lebih tenang ketika menghadapi tekanan pertandingan. Ada alasan lain yang lebih sederhana, yaitu mobilitas. Bahkan beberapa desain memiliki potongan khusus yang memudahkan pemain berlari tanpa merasa celananya menghambat langkah.